Inovasi Kotak Tisu dari Limbah Kupang Antar Mahasiswa Teknik Industri UMSIDA Raih Juara 1 Nasional di LOGISTICHAMP 2025

 GRESIK – Sabtu, 23 Agustus 2025, menjadi hari bersejarah bagi delegasi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA). Di tengah hiruk-pikuk Auditorium B Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), sebuah pengumuman mengguncang ruangan: tim dari UMSIDA resmi dinobatkan sebagai Juara 1 Nasional dalam ajang LOGISTICHAMP 2025.

Kompetisi tahunan ini bukan sekadar lomba biasa, melainkan panggung bagi inovasi logistik hijau yang menantang mahasiswa untuk berpikir kritis demi keberlanjutan rantai pasok di masa depan. Kemenangan ini membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukanlah penghalang jika sebuah tim memiliki kepekaan terhadap masalah di sekitar dan penguasaan teori yang matang.

  1. Akar Inovasi: Mengubah Gunung Limbah Menjadi Nilai Ekonomi

Inovasi yang dibawa oleh tim UMSIDA lahir dari pengamatan langsung terhadap keresahan masyarakat di Sidoarjo, khususnya di daerah Balongdowo. Sebagian besar penduduk di sana menggantungkan hidup sebagai nelayan kerang kupang. Namun, aktivitas ekonomi ini menyisakan persoalan lingkungan yang pelik: tumpukan kulit kerang kupang yang menggunung dan tidak terpakai.

Melihat fenomena tersebut, tim yang beranggotakan Dinda dan rekan-rekannya merancang “Coralink Tissue Box – Sustainable Packaging with Ocean Mineral Power”. Produk ini bukan sekadar kotak tisu biasa, melainkan sebuah kemasan berkelanjutan yang memadukan limbah kulit kerang kupang dengan limbah kertas sisa salah cetak. Melalui sentuhan Teknik Industri, limbah yang tadinya mencemari pemandangan di Balongdowo bertransformasi menjadi produk fungsional yang memiliki nilai estetika dan ekonomi.

  1. Persiapan Kilat di Bawah Tekanan Waktu

Salah satu fakta yang mengejutkan di balik kemenangan ini adalah durasi persiapannya yang sangat singkat. “Bisa dibilang kami hampir tidak ada persiapan yang panjang,” Ungkap Adinda Dwi Cahayani ( Salah satu anggota kelompok ) saat diwawancarai. Tim hanya memiliki waktu sekitar dua minggu mulai dari proses pendaftaran hingga hari final. Bahkan, pengerjaan prototipe produk hanya memakan waktu sekitar 4 hingga 5 hari saja.

Namun, persiapan kilat ini tidak dilakukan dengan asal-asalan. Keberanian tim untuk mencoba tantangan ini didukung penuh oleh bimbingan dosen pendamping yang sudah berpengalaman di bidang kompetisi nasional. Dukungan dosen ini menjadi faktor kunci yang memberikan rasa percaya diri bagi tim untuk melangkah maju meskipun waktu yang tersedia sangat terbatas.

  1. Strategi Menghadapi Minder dan Persaingan Ketat

Masuk ke babak final, tim UMSIDA harus berhadapan dengan peserta yang sangat beragam, mulai dari sesama mahasiswa Teknik Industri hingga peserta tingkat SMA. Dinda mengakui bahwa awalnya mereka sempat merasa minder. “Kami bersaing dengan rekan-rekan Teknik Industri yang memiliki latar belakang dan pemahaman konsep yang sama,” ujarnya.

Selain itu, tim sempat meragukan daya tarik visual produk mereka yang hanya berupa kotak berwarna abu-abu. Namun, mereka memutar otak untuk memberikan nilai tambah (added value). Strateginya adalah dengan membawa sampel produk nyata ke meja juri dan memberikan identitas visual berupa stiker khusus untuk memperkuat merek Coralink. Keyakinan mereka pada kekuatan inovasi bahan baku akhirnya terbukti lebih unggul daripada sekadar tampilan luar yang mencolok.

  1. Implementasi Teori Kuliah ke Dunia Nyata

Kemenangan ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari penerapan ilmu yang didapat di bangku kuliah. Karena lomba ini mengusung tema “Packaging Design Competition”, penguasaan perangkat lunak desain menjadi harga mati.

Tim Teknik Industri UMSIDA memanfaatkan kemahiran mereka dalam mata kuliah Menggambar Teknik. Pengalaman menggunakan perangkat lunak SketchUp selama perkuliahan membuat mereka tidak kebingungan saat harus menerjemahkan ide inovatif ke dalam desain teknis yang presisi. Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum Teknik Industri sangat relevan dalam menjawab tantangan praktis di kompetisi nasional maupun industri logistik yang sebenarnya.

  1. Ujian Mental di Detik-Detik Terakhir

Momen yang paling menguras emosi terjadi tepat sebelum presentasi dimulai. Panitia hanya memberikan waktu 10 menit bagi setiap peserta untuk menata seluruh perlengkapan di stand yang telah disediakan. Dalam tekanan waktu yang sempit, tim mendapati prototipe produk mereka sedikit sobek karena tertindih barang lain selama perjalanan.

Di saat kepanikan melanda, kekompakan tim diuji. Mereka harus berbagi tugas secara kilat: ada yang merapikan stand, ada yang mencoba memperbaiki prototipe, dan ada yang fokus mendalami materi presentasi agar tersampaikan secara sistematis. Pengalaman pertama mengikuti lomba tingkat nasional ini benar-benar menempa mental mereka untuk tetap tenang dan profesional di depan dewan juri.

  1. Harapan untuk Logistik Indonesia di Masa Depan

Bagi tim UMSIDA, gelar juara ini hanyalah awal dari perjalanan panjang. Mereka memiliki harapan besar agar sektor logistik di Indonesia bisa berkembang menjadi lebih efisien, transparan, dan terintegrasi dengan bantuan teknologi serta inovasi-inovasi hijau serupa.

Setelah kemenangan di UISI ini, tim berencana untuk tidak berhenti bereksperimen. Mereka ingin mencoba perlombaan inovasi lainnya dan terus mengembangkan ide-ide yang tidak hanya bermanfaat bagi pengembangan diri mereka sendiri, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi masyarakat di sekitar mereka. Semangat ini sejalan dengan visi Teknik Industri untuk selalu melakukan perbaikan terus-menerus (continuous improvement).

Kemenangan Tim Teknik Industri UMSIDA di ajang LOGISTICHAMP 2025 membuktikan bahwa solusi untuk masalah logistik masa depan sering kali tersembunyi di sekitar kita, bahkan dalam tumpukan limbah kulit kerang kupang di pinggiran Sidoarjo. Dengan kombinasi antara kepekaan sosial, penguasaan teori desain, dan keberanian untuk mencoba di bawah tekanan, mahasiswa mampu menciptakan inovasi yang diakui di tingkat nasional.

Prestasi ini juga menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Teknik Industri UMSIDA memiliki daya saing yang tinggi dalam mewujudkan pemimpin yang berpikir kritis, visioner, dan berintegritas. Semoga keberhasilan Dinda dan timnya menjadi pemantik semangat bagi seluruh mahasiswa, terutama mahasiswa baru angkatan 2025, untuk terus berprestasi dan membawa nama baik almamater di kancah nasional maupun internasional.