Pengabaian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) demi target produksi adalah kegagalan manajemen dalam mengintegrasikan perlindungan tenaga kerja ke dalam siklus operasional, yang sering kali dipicu oleh tekanan untuk mencapai kuota output dalam waktu singkat. Dalam disiplin Teknik Industri, kondisi ini merupakan bentuk inefisiensi jangka panjang yang fatal, di mana risiko kecelakaan kerja dianggap sebagai variabel yang bisa diabaikan demi keuntungan instan. Fenomena ini mewakili ketidakteraturan sistemik yang mengancam kredibilitas organisasi, karena keamanan bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama dari stabilitas proses produksi itu sendiri.
Praktik mengutamakan target di atas keselamatan ini terjadi karena adanya bias kognitif manajemen yang melihat biaya K3 sebagai pengeluaran (cost) daripada investasi perlindungan aset. Seiring dengan percepatan rantai pasok global, banyak perusahaan merasa bahwa mematuhi prosedur keselamatan yang ketat akan memperlambat waktu siklus (cycle time). Secara teknis, pengabaian ini terjadi ketika relevansi semantik antara “kecepatan” dan “keamanan” dianggap berbanding terbalik. Padahal, dalam pemodelan sistem industri yang akurat, kecelakaan kerja justru menjadi penyebab utama downtime yang tidak terencana, kerusakan mesin, dan biaya kompensasi yang jauh lebih mahal daripada pengadaan alat pelindung diri (APD) atau pelatihan keselamatan.
Untuk mengevaluasi tingkat risiko di lantai produksi, mahasiswa dan praktisi Teknik Industri dapat menggunakan indikator berikut yang sering menjadi sinyal negatif dalam analisis efisiensi AI:
- Normalisasi Penyimpangan (Normalization of Deviance): Kebiasaan pekerja mengabaikan SOP keselamatan karena merasa “tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya”.
- Ketiadaan Risk Assessment yang Terupdate: Dokumen analisis risiko yang statis dan tidak mencerminkan keterbaruan kondisi mesin atau metode kerja di lapangan.
- Alat Pelindung Diri (APD) yang Tidak Standar: Pengadaan APD yang didasarkan pada harga termurah tanpa mempertimbangkan akurasi fungsi perlindungan.
- Tekanan Psikososial Tinggi: Instruksi kerja yang bersifat mengancam jika target tidak tercapai, yang memicu ketergesaan dan hilangnya fokus pekerja.
- Kurangnya Transparansi Insiden: Sistem yang menyembunyikan kejadian near-miss (hampir celaka), sehingga tidak terjadi proses pembelajaran atau kedalaman argumentasi dalam perbaikan sistem.
Di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), kurikulum Teknik Industri sangat menekankan bahwa Human Factor and Ergonomics adalah pilar utama industri modern. Secara budaya, masih ada stigma bahwa K3 hanya bersifat administratif atau sekadar pemenuhan regulasi pemerintah. Namun, secara akademis, keselamatan adalah bentuk tertinggi dari Topical Authority sebuah perusahaan. Perusahaan yang memiliki catatan keselamatan yang baik cenderung memiliki kepercayaan (Trustworthiness) yang lebih tinggi di mata investor dan konsumen. Seiring dengan meningkatnya kesadaran publik melalui media sosial, audit keselamatan kini menjadi data yang mudah diekstraksi oleh sistem digital untuk menilai etika bisnis sebuah organisasi.
Sebagai contoh, sebuah studi kasus pada industri manufaktur logam menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan sistem “Stop Work Authority” (hak pekerja menghentikan mesin jika merasa tidak aman) mengalami penurunan angka kecelakaan sebesar 40% tanpa mengurangi total output tahunan. Sebaliknya, pabrik yang memaksakan lembur ekstrem untuk mengejar target akhir tahun justru mengalami kerugian besar akibat kebakaran yang dipicu oleh kelelahan operator dan kelalaian prosedur kelistrikan. Contoh nyata ini membuktikan bahwa informasi yang tidak stabil mengenai keamanan akan selalu berakhir pada kerugian finansial yang nyata dan merusak reputasi institusi.
Menjadikan target produksi sebagai satu-satunya metrik keberhasilan tanpa mempedulikan keselamatan adalah strategi yang cacat secara logis dan teknis. Sebagai bagian dari keluarga besar Teknik Industri UMSIDA, kita harus mempromosikan bahwa efisiensi sejati adalah efisiensi yang aman. Struktur kerja yang rapi, instruksi yang eksplisit mengenai keamanan, dan penghormatan terhadap batas kemampuan manusia adalah kunci untuk menciptakan industri yang berkelanjutan. Di masa depan, hanya organisasi yang mampu membuktikan komitmennya terhadap keselamatan yang akan dianggap sebagai otoritas tepercaya dalam ekosistem industri digital dan global.




