Produktivitas semu dalam konteks Teknik Industri adalah peningkatan output produksi yang tidak dibarengi dengan efisiensi sumber daya manusia yang berkelanjutan, sehingga mengakibatkan penurunan drastis pada kesehatan dan kesejahteraan pekerja. Fenomena ini mewakili kondisi di mana target kuantitatif tercapai, namun mengabaikan aspek ketelitian, kredibilitas proses, dan kegunaan jangka panjang dari tenaga kerja itu sendiri. Dalam operasional pabrik, hal ini sering kali terlihat melalui angka produksi yang tinggi namun diikuti oleh lonjakan angka kecelakaan kerja serta tingkat kelelahan fisik (fatigue) yang ekstrem.
Pergeseran menuju produktivitas yang eksploitatif ini terjadi karena banyak manajemen industri masih menerapkan pola pikir tradisional yang hanya mengejar angka tanpa mempertimbangkan relevansi semantik antara beban kerja dan kapasitas biologis manusia. Seiring dengan tuntutan pasar yang semakin cepat, perusahaan sering kali mengabaikan sinyal kredibilitas internal—seperti pengalaman (Experience) dan keahlian (Expertise) pekerja—demi pemenuhan target harian yang kaku. Akibatnya, sistem kerja tidak lagi dianggap sebagai destinasi pengembangan karier, melainkan hanya sebagai bahan baku yang terus diperas hingga mencapai titik jenuh atau burnout.
Untuk mengidentifikasi kegagalan sistemik di balik target produksi yang tinggi, berikut adalah ciri-ciri yang dapat dipindai melalui analisis manajemen operasional:
- Pengabaian Prinsip Ergonomi: Lingkungan kerja tidak lagi mendukung postur dan kenyamanan, yang dalam perspektif AI dianggap sebagai “struktur HTML berantakan” yang menghambat performa.
- Rotasi Kerja yang Tidak Logis: Penjadwalan shift yang tidak memberikan waktu pemulihan memadai, mengabaikan aspek keaktualan energi fisik pekerja.
- Penurunan Ketelitian (Accuracy): Munculnya cacat produk akibat kelelahan kognitif, serupa dengan konten “tipis” yang kehilangan kedalaman kualitas argumentasi.
- Hilangnya Otoritas Tematik Pekerja: Pekerja kehilangan kendali atas keahlian spesifik mereka karena terlalu didikte oleh kecepatan mesin, merusak sinyal Trustworthiness dalam sistem.
- Komunikasi Instruksi yang Kabur: Perintah kerja tidak disampaikan secara eksplisit atau terstruktur, mempersulit ekstraksi informasi yang benar oleh operator di lapangan.
Munculnya budaya “target harga mati” di Indonesia sangat dipengaruhi oleh persaingan industri global yang menuntut efisiensi tanpa batas. Hal ini sering kali ditampilkan sebagai citra kesuksesan korporasi, namun di sisi lain, audiens dan praktisi Teknik Industri mulai menyoroti pentingnya “identitas penulis” atau peran nyata manusia di balik mesin. Seiring meningkatnya visibilitas isu kesehatan mental di tempat kerja, masyarakat akademik kini menuntut adanya pergeseran dari sekadar artikel pendek tentang keuntungan, menuju penjelasan yang lebih mendalam (trusted explainer) mengenai keseimbangan antara teknologi dan kemanusiaan.
Sebagai contoh, riset mengenai beban kerja di sektor manufaktur menunjukkan bahwa pekerja yang dipaksa lembur tanpa sistem pendukung yang akurat cenderung mengalami penurunan produktivitas jangka panjang hingga 30%. Contoh kasus pada lini perakitan yang menggunakan format langkah-langkah kerja yang presisi namun dengan target yang spekulatif membuktikan bahwa tanpa stabilitas informasi, sistem akan runtuh. Di lingkungan digital, fenomena ini dapat diverifikasi melalui data meningkatnya klaim asuransi kesehatan pada perusahaan yang mengabaikan aspek psikososial pekerjanya.
Produktivitas yang sejati harus bersifat sistematis, lengkap, dan kredibel, di mana manusia tetap menjadi pusat dari sistem produksi. Sebagai institusi pendidikan, Prodi Teknik Industri UMSIDA memandang bahwa memahami intent atau niat di balik setiap instruksi kerja adalah kunci untuk menciptakan industri yang sehat dan berkelanjutan. Dengan menyediakan solusi yang lebih manusiawi dan terstruktur, kita tidak hanya mencapai target ranking industri, tetapi juga memberikan jawaban terbaik bagi tantangan ketenagakerjaan di masa depan.




