Fst.umsida.ac.id – Laboran Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo mengembangkan inovasi “Raspberry-Touch Board” dalam program KILAB 2026, berupa workstation mikro portabel berbasis Raspberry Pi untuk pembelajaran sistem kontrol dan Human Machine Interface (HMI).
Dalam pengembangan inovasi ini, Mochammad Rizal Marlianto ST bertindak sebagai ketua tim sekaligus laboran elektro. Sementara itu, anggota tim terdiri dari Melina Atikawati yang merupakan laboran informatika. Tim juga melibatkan dosen pendukung dan mahasiswa sebagai pengguna sekaligus subjek implementasi inovasi.
Rizal menjelaskan bahwa ide tersebut muncul dari kebutuhan media praktikum yang lebih modern, efisien, dan portabel untuk mendukung pembelajaran sistem tertanam dan HMI.
“Selama ini pembelajaran sistem kontrol masih banyak bergantung pada perangkat komputer eksternal. Karena itu kami mencoba menghadirkan workstation mikro yang lebih praktis dan mandiri,” ujarnya.
Raspberry-Touch Board Dukung Pembelajaran Embedded System

Menurut Rizal, perkembangan teknologi embedded system, HMI, dan mikrokontroler terus meningkat di dunia industri. Oleh sebab itu, mahasiswa perlu dibekali media pembelajaran yang relevan dengan perkembangan IPTEKS modern.
Ia menilai Raspberry-Touch Board dapat menjadi solusi pembelajaran praktikum yang lebih interaktif karena mahasiswa dapat langsung mempelajari sistem kontrol melalui perangkat portabel berbasis Raspberry Pi.
“Mahasiswa nantinya bisa belajar sistem kontrol dan HMI secara lebih fleksibel dengan perangkat yang mudah digunakan dan terintegrasi,” jelasnya.
Proses pengembangan inovasi tersebut telah dirancang secara sistematis mulai dari tahap desain hingga validasi sistem. Beberapa tahapan yang telah dipersiapkan meliputi perancangan sistem, desain box dan layout, fabrikasi hardware, pengembangan software berbasis Python dan HMI, hingga pengujian sistem.
Rizal menyebut roadmap pengembangan tersebut menjadi langkah penting agar inovasi dapat direalisasikan secara optimal hingga tahap implementasi di laboratorium.
Hadapi Tantangan Integrasi Hardware dan Software
Dalam penyusunan proposal KILAB 2026, tim menghadapi sejumlah tantangan teknis, khususnya dalam proses integrasi perangkat keras dan perangkat lunak.
Menurut Rizal, sinkronisasi berbagai komponen seperti sensor, layar sentuh, dan Raspberry Pi membutuhkan perencanaan sistem yang matang agar perangkat dapat bekerja secara stabil dan ergonomis.
“Tantangan terbesar ada pada integrasi hardware dan software agar semua komponen dapat berjalan sinkron serta nyaman digunakan dalam praktikum,” katanya.
Selain itu, tim juga harus menyesuaikan penyusunan anggaran dengan ketentuan program serta memastikan inovasi memenuhi indikator capaian teknis dan akademik.
Setelah lolos KILAB 2026, tim menargetkan Raspberry-Touch Board dapat berfungsi secara optimal sesuai skenario pengujian dan digunakan sebagai media praktikum di laboratorium.
Berpotensi Dikembangkan untuk Institusi Pendidikan Lain
Ke depan, inovasi tersebut akan terus dikembangkan melalui penyempurnaan fitur, peningkatan performa sistem, serta pengembangan modul praktikum berbasis HMI.
Selain diterapkan di lingkungan laboratorium Umsida, Raspberry-Touch Board juga memiliki potensi untuk diimplementasikan pada institusi pendidikan lain sebagai media pembelajaran embedded system dan sistem kontrol.
Rizal berharap inovasi tersebut mampu meningkatkan kualitas pembelajaran praktikum sekaligus menghasilkan lulusan yang siap menghadapi kebutuhan industri modern.
“Kami berharap inovasi ini dapat mempermudah mahasiswa memahami sistem kontrol dan HMI serta menjadi referensi pengembangan media praktikum di institusi pendidikan lainnya,” tutupnya.







